Tentang Negeri Amahusu
Negeri Amahusu sudah ada sejak abad ke XIII dan dipimpin oleh Kepala Pemerintah Negeri (Raja), yang dipilih dan di angkat berdasarkan turunan dari Mata Rumah Perintah. Asal-usul penduduk Negeri Amahusu, menurut cerita turun-temurun berasal dari Pulau Seram, Jawa, Papua dan Banda Neira. Mengenai asal-usul Mata Rumah yang memerintah dan membentuk Negeri atau Desa Adat ini, mereka berasal dari Pulau Seram dari Kerajaan Nunusaku, dimana Kerajaan ini mempunyai 2 kelompok penduduk yaitu, Kelompok Pata Siwa dan Kelompok Pata Lima. Dari kelompok pata lima ini, ada seorang yang bernama Lautaka, ia keluar dari Pulau Seram dan tinggal di Pulau Banda. Lautaka ini kawin dengan seorang perempuan yang berasa dari Banda dan bernama Molika Nyaira Banda. Toka. Di sana, Lautaka ini membentuk sebuah Kerajaan dan dia sendiri yang menjadi Raja dari Kerajaan itu. Raja Lautaka ini, mempunyai 7 orang anak, diantarnya 6 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan. Anak perempuan ini bernama Mboyratan yang artinya Intan Permata. Disamping ke tujuh orang anak dari Raja Lautaka, ada juga seorang anak laki-laki dari Kerajaan Sahulau yang berada di Pulau Seram yang ikut tinggal bersama-sama dengan mereka di Banda. Pada suatu waktu, Raja Kerajaan Sahulau jatuh sakit dan anakya yang tinggal di Kerajaan Lautaka itu, dipanggil pulang untuk menggantikan ayahnya sebagai Raja di Kerajaan Sahulau. Tidak lama kemudian, Mboyratan anaknya yang tertua dari Kerajaan Lautaka ini mengandung dan ini menjadi tanda Tanya dan saling menuding siapa di antara ke enam saudara laki-lakinya yang telah menghamili kakak perempuan mereka, dan karena tidak ada yang mengaku, maka mereka membiarkan sampai anak itu lahir. Setelah anak kecil laki-laki itu telah berumur kurang lebih 1 tahun, ke enam saudara itu membuat garis lingkaran dan masing-masing orang berdiri mengelilingi lingkaran itu. Kemudian anak kecil itu ditempatkan di tengah lingkaran, dengan perjanjian bila si anak itu merayap dan menyentuh kaki dari salah satu diantara mereka, maka orang itu harus dibunuh. Pada kenyataannya anak itu merayap mengelilingi lingkaran itu dan menyentuhnya. Atas dasar inilah mereka bersepakat untuk tetap memelihara anak itu. Setelah anak itu menjelang dewasa, ibunya berfikir untuk mencari bapak dari anak itu ke Pulau Seram dengan menggunakan Gosepa Padewakan yang dikawal seekor Ikan Hiu Putih. Setelah mereka sampai di Pulau Seram tepatnya di Kerajaan Sahulau, ternyata Raja Sahulau tidak dapat menerima Mboyratan beserta anaknya karena, saat itu Raja Sahulau sudah menikah dan permaisurinya sudah mengandung. Mendengar hal itu, maka Mboyratan beserta anaknya berangkat meninggalkan Sahulau, menelusuri tempattempat sambil menimbang tanah yang kurang lebih tiga puluh tempat dan akhirnya tiba di Pulau Ambon tepatnya di Tangkabesi (Tanjung Kau Besi) Negeri Amahusu, dan dari tempat itu mereka turun ke darat dan naik ke Gunung menelusuri hutan rimba sambil timbang tanah, akhirnya tiba di puncak Gunung Armahusi, dan mereka menetap dan tinggal di situ. Ternyata di puncak Namatula atau Gunung Tola, sebelah barat puncak Armahusi, sudah ada Kapitan Latupapua (Soplanit) yang tinggal di situ berama keluargnya dan di sebelah timur tepatnya di puncak Gunung Welelamang dating lagi Kapitan Sounusa (Mainake) bersama Hulubalangnya, kemudian datang lagi marga-marga yang lain seperti, Matitaputty, Saliha, Akiaar dan Pupella dan anak dari Mboyratan sudah menjadi dewasa dengan gelar Kapitan Wirantaka (Silooy Latuwakan) sehingga terbentuklah sebuah negeri yang kemudian diberi nama Negeri Amahusu yang terdiri dari kata “Ama” dan “’Husu”. Ama yang berarti Bapak dan Husu yang berarti Berjalan menyusuri atau mencari. Berdasarkan hal tersebut, maka Amahusu dapat diartikan sebagai “Tempat yang dicari untuk ditempati atau dimukim”. Waktu kedatangan Portugis dan pada tahun 1679, Negeri ini dipindahkan dari Gunung ke dataran rendah dimana sampai sekarang Negeri ini berada dan yang menjadi Raja pertama di Negeri Sekarang ini adalah Paul. Silooy, diganti namanya oleh penjajah Portugis menjadi Paul. Da Costa/Silooy. Mulai dari saat itu, yang menjadi Mata Rumah atau Turunan Perintah di Negeri Amahusu adalah marga Silooy dan da Costa (Latuwakan).
Melalui Peta Digital Negeri Amahusu, masyarakat dan wisatawan dapat mengenal berbagai lokasi penting seperti Pantai Amahusu, Batu Capeu, Hutan Musik Sanggar Booyratan, tempat ibadah, fasilitas kesehatan, serta pusat pemerintahan.
👥 Kependudukan Negeri Amahusu
Penduduk Negeri Amahusu Untuk Tahun 2012 Berjumlah 4605 Jiwa Yang Terdiri Dari Laki-Laki Sebanyak 2273 Jiwa Dan Perempuan 2332 Jiwa Dengan Jumlah Kepala Keluarga Sebanyak 1144 Kepala Keluarga Untuk Tahun 2013 Jumlah Penduduk Negeri Amahusu Sebanyak 4641 Jiwa Terdiri Dari Jumlah Laki-Laki Sebanyak 2294 Jiwa Dan Perempuan Sebanyak 2347 Jiwa Dengan Jumlah Kepala Keluarga 1150 Kepala Keluarga. Jika Dibandingkan Dengan Jumlah Penduduk Tahun 2012 Dan Tahun 2013, Terjadi Kenaikan Atau Pertumbuhan Penduduk 0.99 % Yang Disebabkan Karena Kelahiran, Dan Migrasi Dari Luar Negeri Amahusu Dapat Ddilihat Pada Tabel Berikut :
Tabel Jumlah Penduduk Negeri Amahusu Tahun 2012–2013
| NO | JENIS KELAMIN |
JUMLAH PENDUDUK TAHUN |
PERSENTASE PERKEMBANGAN (%) |
|
|---|---|---|---|---|
| 2012 | 2013 | |||
| 1 | LAKI-LAKI | 2273 | 2294 | 0,92 |
| 2 | PEREMPUAN | 2332 | 2347 | 0,64 |
| JUMLAH TOTAL | 4605 | 4641 | 0,99 | |